Musik Bisa Tingkatkan Perkembangan Kognitif Anak, Kok Bisa?

Tahukah kamu negara mana yang menduduki peringkat tertinggi dalam Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2000-an hingga sekarang ini? Yups, jawabannya adalah Finlandia. Salah satu negara Nordik ini merupakan negara yang secara luas dikenal sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Bahkan ia berhasil mengungguli kualitas pendidikan negara maju lainnya, seperti Inggris dan Amerika Serikat. Finlandia menorehkan prestasi cemerlang yang mampu menggemparkan dunia pendidikan. Dalam tes PISA tahun 2018 saja, Finlandia memiliki prestasi yang jauh di atas rata-rata OECD dalam bidang matematika, membaca, dan sains. Finlandia berhasil memperoleh skor 507 poin dalam matematika, 520 poin dalam membaca, dan 522 poin dalam sains (Clausnitzer, 2022).

Lalu kira-kira faktor apa saja sih yang membuat kualitas pendidikan Finlandia menjadi salah satu yang terbaik di dunia? Ternyata jawabannya sangat banyak sekali, Sobat. Pertama, Finlandia tidak menerapkan ujian dan memberikan PR untuk siswa. Kedua, prinsip kerjasama dan bukan bersaing. Hal ini berarti bahwa persaingan nilai atau peringkat sekolah  tidak terjadi di Finlandia. Ketiga adalah memulai sekolah pada usia yang lebih tua. Anak-anak di Finlandia akan memulai sekolah pada usia tujuh tahun dan hanya ada sembilan tahun pendidikan wajib. Keempat adalah memulai jam sekolah lebih siang. Finlandia menerapkan peraturan di mana siswa mulai masuk sekolah pukul 09.00 hingga 09.45 pagi dan berakhir pada pukul 02.00 hingga 02.45 siang. Kebijakan baik ini didukung oleh penelitian yang membuktikan bahwa waktu mulai yang terlalu awal berdampak buruk pada kesejahteraan, kesehatan, dan perkembangan siswa.

Selain faktor-faktor di atas, ternyata tidak banyak orang yang tahu lho kalau Finlandia memasukkan pelajaran musik ke dalam kurikulum pendidikannya. Bahkan yang lebih mengejutkan, sistem pendidikan di Finlandia memiliki jumlah durasi pelajaran matematika yang sama dengan jumlah durasi pelajaran musik, yaitu tiga jam setiap minggunya (Walker, 2017). Hal ini tentu kontras dengan apa yang terjadi di seluruh sekolah di dunia, termasuk Indonesia. Biasanya, negara-negara di seluruh dunia cenderung memotong jam pelajaran kesenian dan membiarkan siswa tanpa instruksi musik. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa musik berdampak positif terhadap keberhasilan akademik dan perkembangan kognitif anak.

Sebagai contoh, pada tahun 2014, dengan melibatkan ratusan anak yang datang dari keluarga berpendapatan rendah, para peneliti menemukan bahwa pelajaran musik dapat membantu anak-anak tersebut memperbaiki keterampilan membaca dan bahasa mereka (Walker, 2017). Nina Kraus, salah seorang peneliti dan ahli neurobiologi dari Universitas Northwestern, mengungkapkan bahwa penelitian telah menunjukkan ada perbedaan dalam otak anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang miskin sehingga memengaruhi kemampuan mereka untuk belajar (APA, 2014). Sementara itu, siswa yang tinggal dalam keluarga yang kaya menunjukkan performa yang lebih baik di sekolah daripada anak-anak yang datang dari latar belakang ekonomi yang rendah. Penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association pada tahun 2014 ini menemukan bahwa latihan musik dapat memengaruhi sistem saraf untuk menciptakan pelajar yang lebih baik dan membantu mengurangi jurang akademik ini.

Pengaruh musik terhadap fungsi kognitif anak pertama kali diketahui pada tahun 1993 melalui penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature. Hasil studi yang dilakukan oleh Rauscher (et al., 1993) dan dikenal sebagai Mozzart effect tersebut menunjukkan bukti bahwa mendengarkan musik Mozzart dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak. Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa memberi stimulasi berupa memperdengarkan musik klasik selama kehamilan dapat meningkatkan jumlah sel otak bayi dalam kandungan yang merupakan parameter untuk kecerdasan. Tidak hanya saat bayi dalam kandungan saja, musik juga memberikan manfaat untuk semua usia anak. Lalu apa saja manfaat musik untuk perkembangan kognitif anak? Simak penjelasannya berikut ini!

  • Perkembangan Bahasa Bayi yang terpapar musik dan suara sejak usia dini terbukti lebih mudah mengoceh dan meniru musik. Pemaparan awal ini membantu meningkatkan kosa kata mereka dan mengembangkan jalur saraf yang diperlukan untuk berbicara dan mendengarkan. Penelitian telah menunjukkan bahwa terlibat secara aktif dalam musik selama masa kanak-kanak meningkatkan pengucapan bahasa, memori verbal, dan keterampilan komunikasi secara keseluruhan.
  • Peningkatan Intelligent Quotient (IQ) Penelitian mengungkapkan adanya korelasi positif antara belajar memainkan alat musik dan peningkatan IQ pada anak. Anak-anak yang secara konsisten berlatih memainkan alat musik selama satu tahun atau lebih menunjukkan tingkat IQ yang lebih tinggi dibandingkan teman sebayanya. Belajar musik membutuhkan disiplin, kesabaran, dan fokus, yang berkontribusi pada peningkatan kemampuan kognitif dan kecerdasan secara keseluruhan.
  • Peningkatan Keterampilan Motorik dan Integrasi Multi-Sensorik Memainkan alat musik memerlukan gerakan motorik dan koordinasi yang tepat. Otak seorang anak yang dilatih musik menunjukkan variasi fungsional dan struktural di wilayah yang terkait dengan diskriminasi pendengaran dan keterampilan motorik. Keterampilan ini mencakup proses pendengaran yang halus dan kontrol motorik halus tangan. Studi Magnetic Resonance Imaging (MRI) telah menunjukkan peningkatan konektivitas antara area multi-sensorik dan motorik di otak pada individu yang terlatih dalam bidang musik. Konektivitas yang ditingkatkan ini memungkinkan integrasi informasi sensorik dan perencanaan motorik yang mulus, sehingga menghasilkan kinerja yang terkoordinasi. Musik memiliki kekuatan untuk membentuk otak yang sedang berkembang serta meningkatkan kemampuan kognitif yang melampaui bidang musik itu sendiri. Dengan memahami mekanisme musik memfasilitasi perkembangan kognitif, orang tua dan pendidik dapat memanfaatkan pengetahuan ini untuk mendukung pertumbuhan dan pembelajaran anak. Pengaruh musik terhadap perkembangan kognitif anak memang tidak bisa dipungkiri. Dengan memberikan paparan musik sejak dini, orang tua dan pendidik dapat membuka potensi peningkatan kognisi, perkembangan bahasa, kesejahteraan emosional, dan kecerdasan secara keseluruhan. Musik memfasilitasi konektivitas otak, memperkuat jalur saraf, dan mendorong perubahan struktural yang mengoptimalkan fungsi kognitif.
  • Kesejahteraan Emosional dan Kepositifan Musik memiliki dampak besar pada kesejahteraan emosional anak. Ia memiliki kekuatan untuk mengangkat suasana hati, menciptakan kegembiraan, dan mencegah kesedihan dan penyakit. Mendengarkan musik memicu pelepasan dopamin, neurotransmitter yang terkait dengan kesenangan dan penghargaan. Respon emosional yang positif ini berkontribusi terhadap kebahagiaan dan kesejahteraan mental anak secara keseluruhan.

Referensi:

APA (American Psychological Association). (2014, August 8). Musical training offsets some academic achievement gaps, research says. Science Daily. Retrieved from https://www.sciencedaily.com/2014/08/140808110024.htm.

Clausnitzer, J. (2022, November 4). PISA student performance in Finland 2000-2018, by subject and score. Statista. Retrieved from https://www.statista.com/statistics/986919/pisa-student-performance-by-field-and-score-finland/.

Rauscher, F. H., Gordon, L. S., & Catherine, N. Y. (1993). Music and spatial task performance. Nature. Retrieved from https://www.nature.com/articles/365611a0

Walker, T. D. (2017). Teach Like Finland. Jakarta: Gramedia.